Pilih Hukum Al-Quran atau Hukum UUD?

Kemarin saya sempat mendengar (bukan menonton) berita di televisi tentang adanya seorang yang dikenal sebagai ustad menikah dengan seorang gadis dibawah umur (dibawah 16 tahun). Berita itu sempat heboh di kalangan para artis dan juga para ustad yang terkenal di televisi.

Pro kontra tentu jelas ada. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju. Ada yang berpendapat bahwa menikahi gadis di bawah umur itu tidak etis, melanggar hukum, dan tidak layak dilakoni. Adapula yang berpendapat biasa saja. Adapula yang berpendapat setuju dan mendukung.

Amat disayangkan, ada diantaranya yang membuat saya ‘geram’ mendengar pertanyataan dia tentang hal ini. lebih saya sayangkan lagi, orang yang memberi pendapat itu adalah termasuk orang yang berpengaruh di indonesia. Orang itu berpendapat bahwa:

“Dalam agama Islam sih memang boleh-boleh saja menikah dengan wanita di bawah umur, tapi kita kan hidup di Indonesia. Indonesia ini negara hukum. Menikah dengan wanita dibawah umur termasuk pelanggaran Undang-Undang”

Walau dia tidak persis berkata begitu, tapi setidaknya begitulah yang ingin disampaikan. Maaf saya tidak bisa mempublikasikan secara real. Soalnya saya ndak sempat merekam omongan dia, he he he..

Maaf saya tidak bisa menyebutkan orang yang berkata seperti itu, soalnya saya cuma mendengar, tidak menonton. Saya juga tidak tertarik untuk menghafal nama beliau. he he he..

Pada tulisan ini, saya hanya sedikit ingin berbagi pendapat saja. Bahwa saya sangat menyayangkan opini yang seperti itu. Yang saya permasalahkan bukan masalah nikah dengan wanita dibawah umurnya, tapi tentang statement beliau yang lebih mendahului ‘hukum buatan manusia‘ daripada ‘hukum buatan Allah SWT‘.

Saya sangat tidak setuju dengan opini yang seperti itu. Yaitu opini yang mendahului hukum buatan manusia daripada hukum buatan sang pencipta manusia. Biar bodoh-bodoh begini, saya tetap berusaha untuk lebih mematuhi hukum buatan Allah SWT daripada mematuhi hukum yang dibuat oleh manusia. Memang sih ada beberapa hukum buatan manusia yang bersumber dari hukum Allah (Al-Qur’an), tapi bukan berarti manusia berhak untuk merubah atau menentang aturan AlQur’an itu sendiri.

Sebagaimana pernyataan orang yang saya sebut di atas, beliau menyebutkan bahwa kita semestinya lebih mengutamakan hukum yang ada di negara kita (Indonesia) daripada hukum Islam. Inilah yang membuat saya sangat geram dan tak tahan. Bukankah sudah sangat jelas bahwa Allah SWT itu pencipta kita? Tentu saja sang pencipta lebih mengetahui seluk-beluk makhluk ciptaanNya daripada kita manusia hasil ciptaan Allah. Lalu ketika sang pencipta memberikan aturan hidup kepada kita berupa AlQuran, mengapa kita menjadi ‘sok hebat’ dengan membuat aturan yang menentang aturan sang pencipta?

Ya…contohnya itu tadi, aturan tentang larangan menikah gadis yang masih belum mencapai umur 16 tahun. Dalam Islam memang mempersilakan kita, tapi menurut aturan di indonesia itu merupakan suatu pelanggaran.

Nah….ketika kita dihadapkan pada dua aturan yang berseberangan, antara aturan buatan manusia vs aturan buatan sang pencipta manusia, mana yang lebih Anda pilih?

4 thoughts on “Pilih Hukum Al-Quran atau Hukum UUD?

  1. Kita tidak bisa memberikan pilihan seperti itu karena dalam tatahukum islam difahami bahwa agama islam bukanlah hukum yang menggantikan seluruh hukum yang sudah ada. tapi hukum islam akan menyeleksi hukum-hukum yang bertentangan dengan syariat islam dan yang tidak bertentangan. yangbertentangan akan di buang yang tidak bertentanganakan dipakai.

    Selain itu dalam ajaran islam. posisi pemimpin juga menenpati tempat yang sangat terhormat, denga keyakinan bahwa ” salah satu doa yanglangsung di – Ijabah Allah adalah doa para pemimpin yang adil ”

    terimakasih dari http://myrazano.com
    di tunggu kunjungan dan dukungannya
    ( blog saya masih sepi nih )

    myrazano’s last blog post..Neraka Yang Mengerikan Itu Bernama Rumah

  2. “Taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri di antara kami sekalian”, ini sedikit tambahan mungkin. Saya sependapat dengan Myrazano. Dengan mentaati Allah dan Rosulnya sudah jelas AlQuran dan Sunnah jadi pedoman hidup. Satu hal Ulil Amri memberikan peringatan melalui undang-undangnya. Inilah sebuah peringatan Allah untuk tunduk juga terhadap para pemimpin kita.

    Yayat Sudrajat’s last blog post..Mengolah Kreatifitas

  3. @myrazano & yayat: iya itu ada di dalam surat annisa ayat 59. dalam ayat itu kan udah jelas kalo yang disebutin pertama itu Allah dan Rasul, nomor 3 baru ulil amri (pemimpin atau ulama).

    kalo yang ane baca-baca tafsirnya, kita baru boleh mengikuti pemimpin selama pemimpin itu gak melanggar perintah Allah & Rasul. kalo pemimpin kita melanggar ato menentang perintah Allah, jelas lah pemimpin seperti itu bukanlah ulil amri yang dimaksud di dalam ayat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *