Pilih Pemimpin kok Coba-coba

Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang beberapa hal yang salah satunya berkaitan dengan PEMILU, khususnya Pemilu 2009, lebih khusus lagi tentang haramnya golput menghadirkan kontroversial.
Dari beberapa fatwa terbaru yang difatwakan oleh MUI, yang sangat menarik perhatian publik, termasuk saya adalah tentang Haram Golput. Sementara fatwa-fatwa yang lain, seperti kasus penikahan dini, senam yoga, rokok, dan lainnya tidaklah seheboh tentang fatwa Golput. Entahlah, mungkin hanya pandangan saya saja yang sangat sempit ini. Bisa jadi anda beranggapan lain, bukan?
Nah, kali ini saya mencoba mengungkapkan perasaan saja aja tentang fatwa MUI tentang golput itu. Agak telat sih sebenernya, he he he. Tapi gak apa-apa lah, sekedar sharing opini aja kok.
Barangkali dalam hati anda sudah menebak bahwa judul artikel ini sangatlah mirip dengan salah satu iklan minyak telon komersil. Yapz… tebakan Anda benar. Judul artikel ini memang saya kutip dan saya improvisasi dari iklan tersebut. 😀

Terkait dengan fatwa terbaru MUI tentang Golput, ini membuat saya mengerutkan kening. Sungguh sebenarnya saya masih belum bisa menerima ikhlas fatwa ini. Bukan berarti saya merasa lebih pintar dan lebih bijak dari 700++ ulama yang berhadir memutuskan fatwa itu, bukan. Saya hanya belum menemukan dalilnya saja. Dalil tentang haramnya golput.

Saya masih merasa terlalu hijau untuk membahas tentang dalil Al Qur’an ataupun hadits. Namun sepengetahuan saya yang dangkal ini, memilih pemimpin bukanlah berarti wajib dan akan haram bila kita tidak memilih pemimpin. Memilih pemimpin itu mubah, bukanlah wajib. Kita boleh saja memilih pemimpin, tapi kita tidak akan berdosa bila kita tidak memilihnya. Jadi, apabila MUI berfatwa bahwa golput itu haram, itu artinya MUI telah memaksa kita untuk memilih pemimpin yang sebenarnya barangkali kita sama sekali tidak berniat untuk memilihnya.

Golput haram bila masih ada calon yang amanah dan imarah, apapun partainya

.
Nah, bagaimana jika kita, menurut pandangan kita, menurut perspektif kita, kita masih belum bisa menemukan pemimpin yang sesuai dengan kategori kita? Masih haruskah kita memilih?

Ketika pertama kali mendengar/membaca tentang fatwa ini, saya merasakan seakan ada paksaan di dalamnya. Seakan MUI sudah bisa memastikan bahwa sudah ada pemimpin yang layak untuk kita pilih. Tapi itu menurut siapa? Bukankah pandangan setiap orang berbeda pada orang lain?
Saya yakin, pandangan/penilaian anda terhadap orang yang belum anda kenal tentu berbeda dengan pandangan/penilaian anda terhadap orang yang sudah anda kenal. Lalu bagaimana kita bisa menyamaratakan kategori pemimpin yang layak?

Misalnya, saya menginginkan adanya pemimpin yang berjanji akan menerapkan Al Qur’an dan Assunnah sebagai hukum/peraturan hidup bernegara dan bermasyarakat di Indonesia, namun semua calon yang ada tidak ada satupun yang berjanji seperti itu. Apakah saya juga harus memilih, sementara saya belum mendapatkan apa yang ingin saya pilih?

Toh, dalam pemilu itu yang ada namanya hak pilih, bukan wajib pilih kan? he he he 😀

Sekali lagi, ini hanya ungkapan saya aja yang amat sangatlah dangkal. Silakan dikoreksi jika memang ada yang salah.


image credit:
http://www.masternewmedia.org/images/planning-choice-among-multiple-roads_id267012_size350.jpg

8 thoughts on “Pilih Pemimpin kok Coba-coba

  1. susah memang mencari pemimpin karena bangsa Indonesia terlalu besar untuk dipimpin oleh seorang presiden; kita butuh lebih dari itu

    munawar am’s last blog post..Optimasi Posting Yang Lama, Perlukah?

  2. menurut pendapat saya sih, golput gak haram gak apa. sebaiknya setiap kali mengeluarkan fatwa pihak MUI mesti membeberkan alasan yang menjadi landasan atas fatwanya agar tidak menjadi kontroversial dikemudian hari, gitu toh bozzzz?

    Ghufron’s last blog post..Uang Gratis Dibayar Setiap Mencari Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *